Cinta butuh waktu

 

  

Jakarta, 13 Agustus 2013

 

Pertamina Simprug Residence

 

Room 123, 10:14 PM

 

 …kemarin kamu datang, akunya bingung….

Sepenggal lirik lagu “cinta butuh waktu” Vierratale seakan menggambarkan perasaanku saat ini. Masih terbersit ingatan bagaimana kita bertemu dulu pertama kalinya, dan sekarang kau datang lagi di hadapanku. Bagaimana bisa kulukiskan perasaan ini? Jelasnya, ini sudah tak sama lagi dengan pertama kali dulu.

Sekarang, aku baru menyadari apa yang namanya penantian sia-sia. Sebenarnya, tak dapat juga dikatakan demikian, karena aku memang tidak dalam masa penantian untuk menanti dirimu. Apakah kau pernah merasakan hal yang sama sepertiku ini? Pernahkah kau benar-benar mengharapkanku? Pernahkan kau tidak hanya sekedar membuatku seperti “tong sampah”-mu? Apakah kau tak tahu bagaimana sakitnya hati ini saat kau menyebut nama wanita lain didepanku Alfonso. Begitu banyak kesalahanmu, datang dan pergi sesuka hatimu, menceritakan wanita lain didepanku, bagaimana hubungan kalian, bagaimana kau meminta solusi padaku, dan yang paling menyakitkan saat kau katakan “Biar aku yang menghubungimu terlebih dahulu, jika Terry tahu aku menghubungimu Angel, dia akan marah”. Tahukah kau bagaimana sakitnya hati ini Alfonso? Jika kau memang tak mau lagi masuk ke kehidupanku, bisakah aku mengajukan permintaan padamu? Bisakah kau jangan mengganguku lagi? Jangan pernah datang ke kehidupanku, jangan pernah lagi memberikan kabar, biarkan kita seperti orang asing yang tak pernah kenal, bisakah itu? Bisakah? Haruskan aku sambil memohon padamu?

Bagaimana sakitnya hatiku ini, bagaimana harus kugambarkan lagi sakitnya hatiku ini padamu Alfonso?

Aku tahu bagaimana keadaan kita sekarang, aku tahu dari sorotan matamu, aku tahu rasa yang dulu itu sudah hilang, tidak ada lagi cinta, tidak ada lagi sayang, jadi apa sebenarnya yang ada diantara kita ini?

Aku sudah sangat tenang dengan kehidupanku, aku sudah menjaga irama dan polanya, aku sudah menerima dengan lapang apa yang terjadi padaku, aku sudah menerima bahwa aku memang bukan untukmu, tapi dengan kehadiranmu yang tiba-tiba membuat benteng pertahanan kembali runtuh. Membuatku kembali menangis, linglung, goyah dengan tujuan hidupku. Kadang aku berpikir betapa bodohnya aku, sudah mempunyai Tobias yang sangat mencintaiku dengan tulus, yang membimbingku dekat dengan Tuhan, yang selalu membuatku bahagia, lalu…mengapa aku memikirkan kefanaan yang tak kunjung kau berikan? Cinta semu, kasih yang kering, kehambaran kasih sayang….mengapa kau begitu jadi racun dalam hidupku? Mengapa kau begitu memberikan harapan semu padaku Alfonso?

___________________________________

 

Jakarta, 20 Agustus 2013

 

Pertamina Simprug Residence

 

Room 123, 11:21 PM

 

 “halo…”

“Angel, aku butuh solusi, pendapatmu…”

 

Begitu kau mulai kalimatmu saat kau menghubungiku lagi. Anehnya kenapa saat kau ada masalah, selalu saja aku yang kau ingat. Aku harus bahagia atau tersiksa, dengan keadaan nyamanmu itu yang menceritakan semua permasalahanmu dan pasanganmu? Dengan entengnya kau ceritakan hubungan kalian, bagaimana kau yang sungguh mencintai pasanganmu, dan bagaimana pula kau dicampakkan. Bagaimana kau mencintainya dan bagaimana kau ditelantarkan. Aku sudah sering memberi nasihat, kalau kau mencintai wanita jangan terlalu berlebihan. Dengan tingakahmu yang  seolah katamu “menjaga” mereka, sebenarnya seketika itu juga kau mengekang. Kau ceritakan bagaimana Terry yang mengacuhkanmu, tidak membalas sms-mu, tidak memberi kabar dan sebaliknya, kau selalu menghubungi dia, menanyakan kabarnya, mengejar-ngejar kegiatan apa yang sedang dia lakukan. Sebagai wanita, aku tau bagaimana perasaan Terry, apalagi aku pernah juga merasakan cintamu. Aku tau bagaimana rasanya kekuatan yang kau sebut “menjaga” itu.

“Alfonso..belajarlah ilmu panah..kau tak harus selalu mengejar, mundurlah sedikit, atur jarak, lihat kedepan dan titik yang kau tuju, lalu kemudian melesat. Tidak semua yang namanya mundur itu buruk, mundurlah selangkah lalu kau akan laju melesat, percaya padaku”

Itu saran yang aku berikan padamu. Kau seakan terkagum, mengatakan hanya aku yang mengerti dirimu, padahal kau tak tau kalimatmu itu menyakitkan aku. Aku berusaha tertawa, membuat intonasi suaraku yang terlihat gembira, berempati, padahal di dalam hatiku banyak hinaan yang ingin kuungkapkan karena ulahmu yang tak pernah selesai tentang “wanita”.

Kurang lebih  2 jam kita bercengkrama, dan tak kau sadari bahwa kalimat yang keluar dari mulutmu hanya “aku…aku…dan aku…” Sedikit pun kau tidak pernah mau menanyakan bagaimana hubunganku dengan Tobias, apa kami baik-baik saja, seakan kau tak peduli. Kadang aku berpikir, hubungan yang kita jalin hanya satu arah, dan itu bukan komunikasi yang baik antara “teman” seperti yang kau bilang. Sejauh ini, aku masih dapat menoleransi semua keinginanmu untuk mendapatkan solusi dariku, tapi…aku yakin, akan ada saat semua ini akan berakhir. Namamu hanya tinggal nama, tak lagi berarti apa-apa, demikian pula aku. Kita tidak lagi saling mengingat, bercengkerama, bertemu atau sekedar menceritakan pengalaman ke anak-anak kita. Biar waktu memainkan perannya, siapa yang bertahan, siapa yang bahagia dan siapa yang akan mendapatkan semuanya.

____________________________________________________________

 

Jakarta, 14 September 2013

 

Pertamina Simprug Residence

 

Room 123, 11:43 PM

 

“Halo Angel, sudah pulang dari tugas Negara?”

 

Setelah satu minggu kepulanganku menjalankan tugas Negara, kau baru meneleponku, padahal kita satu kota dan kau sudah tau jadwalku. Lagi-lagi kau sama sekali tak menanyakan bagaimana kegiatanku selama disana, apa yang sudah kujalani, dan apa yang kudapat. Dengan keadaanku yang saat itu masih merasakan sisa lelah dari sekian minggu menjalankan tugas, aku masih harus mendengarkan keluh kesahmu tentang “wanitamu” itu. Mungkin saat ini aku bisa saja langsung menutup telepon, atau dari awal berusaha untuk tidak mengangkatnya, tapi aku memilih untuk ikut campur dalam permasalahanmu. Jadi..paling tidak semua ini tidak murni kesalahanmu saja, ada pembiaran yang terus menerus aku lakukan, sampai akhirnya kau merasa aku dapat mendengar semua celotehmu. Malam ini, aku berusaha mendedikasikan seluruhnya hanya untukmu. Satu tujuanku, ingin kau bahagia. Ini benar-benar tulus, bukan hanya basa-basi hati atau sekedar ingin terlihat baik. Secara khusus aku berdoa untukmu, memohon pada Tuhan agar kau bahagia, dan….semakin dalam aku meminta, semakin aku sadar aku tak layak untuk semua ini.

Aku sadar dan menyadari, dari awal, sangat awal sekali, bahwa kau tidak akan pernah bisa bersatu dengan wanitamu itu. Karena apa? Aku tak bisa menjawabnya. Lalu bagaimana aku bisa menyimpulkan demikian? Karena aku tau dirimu, sangat tau dirimu, dan aku tau kedudukan wanitamu, aku bisa merasakannya, dan aku tau…kalau kalian tidak akan pernah bisa bersama.

Ini yang sulit aku ungkapkan padamu. Aku tak terbiasa untuk menyakiti. Aku hanya berusaha membesarkan hatimu, memberi semangat, keceriaan, seakaan-akan yang salah itu ada di pribadi wanitamu, padahal kaulah yang harus berubah.

MAAFKAN AKU,

 

Aku tak pernah bisa segamblang ini jika berbicara tentang keburukan dirimu, tapi aku tau, melalui alunan jari ini kau pasti akan membacanya, kau pasti tau aku tidak berbohong tentang apapun kepadamu. Jika kau ingin bahagia, ubahlah caramu, cara pandangmu, caramu melihat apa “arti” wanita disampingmu. Ini demi kebaikanmu juga. Berhentilah berpikir bahwa aku ini seorang konsultan cinta yang baik, karena aku sendiri masih sulit untuk menata hatiku. Mungkin kau berpikir aku ini wanita lemah yang juga tak tahan dengan rayuan, tapi paling tidak saat ini aku bahagia dengan pilihanku, aku tidak dikecewakan dan tidak direndahkan oleh apapun dan siapapun.


______________________________

 

Jakarta, 12 Oktober 2013

 

Pertamina Simprug Residence

 

Room 123, 11:31 PM

 

 

“Angel…aku harus bagaimana?”

 

Malam ini aku kembali disadarkan, bahwa cinta itu sebenarnya bukan hal yang simple seperti orang kebanyakan bilang. Cinta itu sungguh rumit, bahkan tidak hanya bagi dua insan yang sedang bercinta, cinta itu juga merembet menyulitkan orang-orang yang ada di sekitar si dua insan itu. Disini aku, salah satunya, yang merasakan bagaimana rumitnya cintamu dan wanitamu itu, Alfonso. Sayangnya, tak ada perbaikan dalam hubungan kalian, jalan ditempat juga tidak. Bagaimana aku bisa memberikan solusi terbaikku jika kau tidak pernah memberikan feedback padaku, apakah solusi-solusi yang kemarin aku berikan itu berjalan dengan baik? Apakah kalian tetap berkasih-kasihan? Apakah kalian sudah membuat prioritas hubungan?

Prioritas dan komunikasi, itu yang selalu aku bilang. Sudah berkali-kali, tapi seakan-akan kau tidak mengerti. Jujur, aku lelah mendengar semua keluh kesahmu itu. Kita berteman, iya…kita berteman, tapi…tak selamanya teman itu merasakan hal yang begini terus. Kau seperti mengiyakan semua perkataanku, menelan mentah-mentah setiap instruksiku, dan itu membuatku takut. Masih ada orang di dunia ini yang sepertimu, yang aku bukan siapa-siapamu tapi kau masih mau menurut dan menyanggupi. Ini aneh.

Saat aku berpikir, malam ini, dengan sangat keras, tak kutemukan juga jalan antara kita untuk terus berlanjut. Aku menutupi hubungan kita, kaupun demikian, seakan hubungan kita ini adalah dosa. Kenapa kita tidak berusaha jujur dengan pasangan kita masing-masing? Toh…aku sama sekali tidak ingin merusak hubungan kalian, pasanganku pun sama sekali tak cemburu padamu. Mungkin seperti ada yang pernah bilang, kalau kita butuh seseorang, ibarat Pastor, yang mengetahui semua kesalahan kita, dan kita yakin rahasia kita aman bersamanya, kita tak perlu takut itu terbongkar, dan kita merasa beban kita agak sedikit lega karena sudah membagi itu kepada orang lain. Tapi…kau tidak bisa samakan aku dengan Pastor, aku tidak sesuci itu Alfonso.

 

Begitulah aku deskripsikan seberapa percayanya kau padaku, diluar batas semua yang telah kita alami bersama. Aku mengenalmu karena kebetulan, dan saat ini kebetulan aku menyadari bahwa akan sangat sulit untuk melepas hidupku darimu. Entah ini keberuntungan atau petaka, tapi aku selalu yakin setiap pertemuan, sudah Tuhan rencanakan untuk memberikan goresan dihidupku, agar aku semakin kuat. Goresan-goresan inilah yang akan menghasilkan getah-getah kehidupan yang semakin berkualitas, yang semakin mahal, yang semuanya itu diawali dari gorensan kesakitan. Ya…itulah dirimu Alfonso. Kau hanya sebagian kecil goresan dihidupku, tapi pemberianmu yang kecil itu sungguh berarti untuk meningkatkan kualitasku. Terima kasih Alfonso.

 

 
 
 
 

 
 
 
 
Title website anda
Pilihan Bahasa