Obrolan Orang Tua

 

Yogyakarta, 11 Agustus 2012

Di hari sabtu menjelang malam ini, ada beberapa orang tua yang sedang berkumpul untuk menjalankan rutinitas bulanan kelompok arisan mereka. Tau kan arisan....saat dimana tiap anggota menceritakan "kehebatan" masing-masing. Contoh yang paling sering ditonjolkan oleh mereka yaitu mengenai kesuksesan anak mereka. Kalian tahu, untuk membentuk suatu kerumunan tidak dibutuhkan lagi madu layaknya kerumunan lebah, hanya dengan obrolan pembuka seorang ibu saja maka "lebah-lebah" yang lain langsung menempel di madu pembicaraan ibu tadi, sedangkan ibu-ibu yang lain? Jelas...mereka juga tidak mau ketinggalan memberikan kontribusi "madu" mereka.

Layaknya sepasang suami istri yang menjadi tuan rumah saat itu, Ibu dan Bapak Robert. Mereka pensiunan PNS, dan menurut saya, mereka adalah pasangan yang sungguh diberkati karena diberikan umur yang panjang serta kesehatan dari Tuhan. Namun...ternyata pendapat saya ini salah. Mereka memulai pembicaraan dengan wajah yang bersungut dan bibir yang ditekuk (gimana itu ya? ya gitulah... :p) 

 

"Ya beginilah keadaan kami, kami hanya bisa melayani kalian seperti ini. Ya bagaimana, cuma kami berdua yang tinggal dirumah ini, anak-anak semua diluar kota, bisnis, sibuk semua. Ya sampai saya operasi usus buntu kemarin pun mereka tidak bisa datang, ya gimanalah, mereka sudah dewasa, sudah besar, kita kan tinggal nunggu waktu kita saja dan disisa waktu hidup ini ya kita hanya bisa mendoakan saja"

Seperti yang saya bilang tadi, kerumunan tadi langsung berbisik-bisik, bergemuruh, seperti lebah yang diganggu sarangnya. Lalu Ibu Rini yang memang terkenal suka berkomentar kemudian angkat bicara, 

 

"Ya itu kan tergantung orang tuanya juga gimana didik anaknya, kalau anak saya sih tidak begitu, mereka pasti mendahulukan saya dari pada yang lain, memang anak kita itu kadang harus dikasi shock terapy, biar mereka ingat siapa dulu yang kasi makan mereka. Anak saya sih ga adalah yang seperti itu, itu sudah kelewatan. Masak Bu Robert operasi anaknya satu pun ga ada yang datang, kan kelewatan itu anaknya. Emang bisnis yang gimana sih yang ga bisa ditinggalin?"

Ya..Bu Rini sudah memainkan perannya dengan baik, suhu ruangan semakian panas, terkhusus lagi suhu hati masing-masing anggota arisan, sudah mulai berlomba untuk mau berkomentar. Seperti halnya Bu Rini, Bu Yuni pun tidak mau kalah panasnya menanggapi obrolan tersebut.

 

"Aaah, sibuk bisnis yang gimana sih sibuknya? Kalau bisnis kan bisa mengatur jadwal sendiri, masak ini ibunya operasi anaknya ga bisa datang, yang benar aja dong"

Disaat suhu hati rata-rata anggota terbilang diatas suhu rata-rata, Bu Fani yang dari tadi menyimak curhatan dari Bu Robert masih tersenyum manis dan berbicara dengan lemah lembut seperti biasanya

 

"Ya samalah kita Bu, anak saya pun begitu juga, lupa sudah mereka sama orang tuanya, sudah kerja bagus-bagus, PNS semua, tapi tak diingatnya orang tuanya yang mensekolahkan dia dulu. Ya seharusnya kan anak kita itu tau diri dan tau terima kasih ya, tapi mau gimana lagi ya Bu, seperti Ibu bilang tadilah, kita orang tua sekarang hanya tinggal mendoakan anak-anak kita itu saja."

Suasana ruangan pun semakin gaduh dengan tanggapan dari Bu Fani, mereka semakin liar berkomentar namun ada juga yang semakin buka-bukaan menceritakan permasalahan dirinya dengan anaknya. Semua mulai memelototkan mata, berteriak keheranan, memberikan simpati, decak kasihan, tatapan mata yang penuh empati, sampai dengan tangisan dan pelukan sambil menepuk punggung dan berkata

 

"Sabar BU, sabar...kita disini hanya bisa bersabar saja, nanti anak-anak kita itu juga tahu kok kalau mereka salah"

Well, saya yang notabene masih seorang anak (belum married gitu) merasa sedikit terpojok. Saya mulai melihat kedalam diri saya, apa benar kami anak-anak mereka seperti itu? Saya yang dari tadi sebagai objek penderita paling tidak mendengar tanggapan yang sebagian besar ada di garis keras menyatakan bahwa kami adalah anak-anak yang tidak berbakti. Oh No...walau saya sudah berkeras hati  untuk tetap tidak mau mewakili mama saya dalam arisan ini, tapi lihat kenyataannya...saya duduk disini, ditengah ibu-ibu yang terus menceritakan keburukan-keburukan anak mereka. Saya kemudian terpikir, paling tidak saya termasuk anak berbakti (haha ^__^ ) boleh dong saya membanggakan diri? Saya mau meluangkan waktu ke arisan keluarga yang seharusnya tidak saya ikuti tapi demi menuruti mama tercinta saya rela melakukan ini :p 

Well, stop! Cukup dengan membanggakan diri saya.  Saya yakin kalian juga pernah berada di situasi seperti yang saya alami, oleh karena itulah kita ini jadi anak-anak super kan ^__^. Dari semua keluhan yang ibu-ibu tadi utarakan, hal luar biasa yang saya dapatkan dari komunitas arisan ini yaitu saya selalu bisa belajar bagaimana menjadi keluarga dan menumbuhkan rasa tanggung jawab sebagai orang tua untuk dapat mendidik dan membimbing anak-anak dalam keluarga tersebut. Yaaa....paling tidak saya bersyukur saya mendapat sesi curhat keluarga di arisan kali ini, pelajaran berharga untuk saya yang selalu berharap menjadi seorang istri dan ibu yang baik. 

 

Sukses untuk teman-teman yang juga mewakili orang tua kalian untuk arisan-arisan mereka,

saran saya, selalu tersenyum dan nikmati suasananya, be a good child in da wordl!

 

woootchaa,

wina

 

 
 
 
 

 
 
 
 
Title website anda
Pilihan Bahasa